Langsung ke konten utama

Konstelasi pertamaku

     Aku masih ingat dengan jelas peristiwa yang mengubah total caraku memandang dunia. Aku ingat betul sewaktu masih SD aku adalah anak yang mudah bergaul dengan semua orang. Aku menyukai role-ku yang selalu dianggap sebagai seseorang yang layak ditiru. Aku masih ingat bagaimana teman-temanku tertarik dengan apa pun yang kukatakan dan aku sama sekali tidak mempunyai keraguan untuk bicara dengan siapapun.

    Masih kuingat betul pengalaman pahit yang kualami sewaktu kelas 2 SMP. Itu adalah sesuatu yang mengubah cara pandangku akan orang lain dan diriku sendiri. Waktu itu awal bulan Oktober, jam istirahat pertama di sekolahku. Aku tidak ingat dengan jelas dengan siapa aku mengobrol saat itu, namun yang pasti seorang anak kelas 1 yang katanya "preman" di angkatan mereka menghampiriku. Awalnya aku tidak mengira dia akan datang menemuiku. Tiba-tiba dia menampilkan raut wajah paling menjijikkan yang pernah kulihat. Aku sama sekali tidak tau apa masalahku dengannya, namun yang pasti dia marah dan menangis!

    Yang benar saja! Seorang anak kelas 1 yang bahkan tidak pernah berbicara denganku tiba-tiba mendatangiku dalam keadaan marah dan menangis. Aku terkaget. Belum cukup sampai disitu, sekarang dia malah memukulku! Yang benar saja! Saat dia memukulku satu-satunya yang kulakukan adalah menangkis setiap pukulannya dengan tanganku. Aku sama sekali tidak berniat membalasnya. Orang-orang disekitarku mulai memperhatikan kami. Aku merasa seperti harus memberikannya pukulan supaya dia berhenti, namun aku sama sekali tidak punya keberanian untuk itu. Aku tidak ingin memicu masalah.

    Setelah merasa bosan memukuliku, anak itu pergi keluar. Lalu datang 2 orang anak kelas satu lain. Mereka menyeretku keluar! Yang benar saja, bukankah aku ini anak kelas 2? Aku merasa harga diriku sudah dipermainkan. Di depan kelasku sendiri, 3 orang anak kelas satu mulai mengeroyokku. Dimana harga diriku? Bagaimana dengan anak kelas dua lainnya? Kemana mereka? Bukankah mereka teman-temanku? Mengapa mereka hanya melihatku begitu saja? Hatiku sakit. Aku merasa dihianati. Aku merasa ditinggalkan.

    Setelah semua pukulan yang kuterima, seorang anak kelas 3 datang dan melerai kami. Tadinya kupikir begitu. Ternyata dia adalah "bang jagonya" si anak kelas satu ini. Aku berharap dia membelaku, namun yang terjadi sungguh benar-benar menyakiti hatiku lebih dalam lagi. Dia menyandarkan tangannya di pundakku dan menyuruhku untuk meminta maaf pada anak kelas satu. Apa? Meminta maaf? Bukankah aku adalah korban? Mengapa aku yang dikeroyok 3 orang anak kelas satu harus meminta maaf? Bukan hanya tubuhku yang sakit! Harga diriku juga merasakan kesakitan yang luar biasa. Aku menangis dan meminta maaf. Sekarang anak kelas satu yang datang pertama malah mengomentari penampilan fisikku. Dia mengomentari semuanya. Seketika aku merasa tidak berharga. hatiku hancur. Semua kepercayaan diri yang tertanam dalam diriku berubah menjadi perasaan minder. Bahkan sekarang aku diancam untuk tidak megadu pada guru.

    Aku masih ingat, dipanggil ke kantor guru setelah kejadian itu. Aku bahkan tidak melakukan pembelaan apa-apa. Aku hanya terdiam dan asal mengangguk. Pada akhirnya alasan mereka bertiga mengeroyokku hanya karena aku kebetulan melihat mereka di depan pagar sekolah saat sedang bercanda dengan temanku. Yang benar saja! Mereka mengeroyokku di depan teman seangkatanku hanya karena aku tertawa dan kebetulan melihat mereka! Dan aku malah dengan bodohnya menutup-nutupi semua yang mereka lakukan.

    Saat istirahat kedua, aku merenung sendirian di kelas. Aku mulai membandingkan fisikku dengan orang lain. Aku merasa enggan untuk berbicara dengan teman-temanku. Aku mulai kehilangan diriku sendiri. Saat itu, datang seseorang dari kelas sebelah, sebut saja Kiko. Dia malah semakin memperburuk pandanganku akan hidup. Dia mengejekku karena tidak punya harga diri di depan orang-orang. Dia bahkan mempermainkanku. Dia mengatakan ejekan tentang diriku dan mengancamku dengan lagak sok premannya. Apakah preman memang sekeren itu? Hatiku benar-benar sakit. Sakit sekali. Aku merasa seluruh dunia adalah musuhku. Aku merasa seluruh dunia memperhatikan rupaku yang jelek ini. 

    Di rumah aku benar-benar merenung seharian. Orangtuaku menanyakan penyebabnya dan aku menolak bicara. Aku masih ingat si abang berkata orangtua si kelas 1 asdalah ketua organisasi Pemuda Pancasila di daerah kami. Aku tidak tau organisasi seperti apa pemuda pancasila ini, tapi saat SMP melalui kejadian aku menganggapnya sebagai organisasi yang berisi orang-orang seperti gangstar di film-film. Sampai saat ini pandanganku tentang organisasi ini tidak jauh berbeda meskipun akau sama sekali tidak tau dan tidak ingin tau tentang organisasi ini. Aku merasa akan jadi bahaya bagi keluarga kami kalau menceritakannya. Namun, pada akhirnya aku pun menceritakannya. Aku menangis sangat keras. Aku menyalahkan banyak hal atas kejadian keamarin. Aku bahkan meminta berhenti sekolah. Aku bahkan memaksa orangtuaku untuk tidak mempermasalahkan hal ini. Aku terus menangis sepanjang malam dalam pelukan ibuku. Keesokan harinya aku absen sekolah selama 2 minggu.

    Setelah dua minggu, aku kembali bersekolah. Kejadian yang pernah kualami membuatku kesulitan untuk berbicara dengan teman-temanku. Aku takut. Aku merasa fisikku sangat jelek dan membuatku menjauhi anak perempuan. Aku merasa anak perempuan di sekolahku sama sekali tidak ingin melihatku, karena aku jelek seperti yang dikatakan si anak kelas satu itu. Aku mulai bersikap kaku dan menjaga diriku untuk tidak banyak bicara. Untuk menutupi rasa kesepianku, aku menghabiskan banyak waktu dengan memainkan game online di warnet. Bahkan aku mulai sering bolos kegiatan ekstrakulikuler sekolah. Meskipun begitu, aku tidak pernah jelek dalam prestasi di sekolah. Namun apa yang kualami saat itu benar-benar membuatku membenci SMP-ku. Aku benar-benar membencinya. Adek kelas tidak menghormatiku, seangkatanku tidak memberiku pertolongan saat aku membutuhkannya dan abang kelas malah mengancamku. Aku mulai menganggap mereka semua adalah orang yang sama. Masa kelas 2 SMP ku kuhabiskan dengan pergi ke sekolah, bermain game online di warnet dan menghadapi bullyan dari Kiko setiap hari. Diriku yang sekarang pasti punya keinginan untuk meludahi mereka berlima jika aku melihat wajahnya. 

    Apa yang kualami di masa SMP adalah sesuatu yang menyakitkan, namun tetap menjadi bagian dari hidup. Hal tersebut memang memberikan dampak buruk terhadap bagaimana aku berkomunikasi dengan orang-orang disekitarku dan memberikanku pandangan yang buruk tentang dunia ini. Namun itu adalah salah satu bagian dalam hidupku, yang membentuk kepribadianku saat ini. Kejadian ini memacuku untuk melakukan pembuktian dan memotivasiku untuk menjadi orang yang lebih baik. Pengalaman ini adalah salah satu dari konstelasi kehidupanku yang akan tetap kusimpan sebagai bintang bersinar.  


Komentar